Latest News

Kisah Nyata Pelarian Seorang Teroris yang Akhirnya Menyesal dan Tobat – nulis

Kisah Nyata Pelarian Seorang Teroris yang Akhirnya Menyesal dan Tobat â€" nulis

Pada tahun 2002, peristiwa tragis bom Bali jilid I terjadi. Dua tempat di Pulau Dewata, yakni Sari Club dan Paddy’s Pub, luluh lantak karena aksi bom bunuh diri. Ratusan orang meregang nyawa karena aksi keji tersebut.

Aparat keamanan pun bergerak cepat, mengungkap dan mengejar pelakunya. Dengan cepat pula, para pentolan kelompok teror bom Bali itu diungkap. Satu persatu aktor dibalik Bom Bali seperti Imam Samudra, Amrozi, Mukhlas dan Ali Imron ditangkap.

Sumber foto: wartaonline.co.id
Sumber foto: wartaonline.co.id

Ada kisah menarik dibalik perburuan pentolan bom Bali. Dalam buku, ” Ketika Nurani Bicara,” terbitan Lazuardi Biru, Ali Imron menceritakan pelariannya ketika ia diburu aparat kepolisian.
Dalam buku itu, dikisahkan bagaimana Ali Imron kabur menghindari kejaran aparat. Saat itu aparat keamanan telah berhasil mencokok Amrozi yang tak lain kakak kandungnya di Lamongan. Ali Imron sendiri sejak berhasil keluar dari Bali usai melakukan aksinya, sudah gelisah, aparat kepolisian pada akhirnya akan mengendusnya.

Sumber foto: jurnal.in
Sumber foto: jurnal.in

Benar saja, tak berapa lama Amrozi dicokok. Ia pun memutuskan untuk kabur.

Lewat bantuan seseorang, Ali Imron menyebrang dari Jawa ke Kalimantan Timur. Menggunakan kapal kayu, dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB, dia menyelundup ke Kalimantan.

Setelah terombang-ambing di lautan, Ali dan seorang temannya, tiba di Pelabuhan Kuala Pembuang. Sempat bermalam di sekitar pelabuhan, esoknya Ali berangkat ke Sampit. Dari Sampit, Ali melanjutkan pelariannya ke Banjarmasin. Lalu balik ke Balikpapan. Saat sedang melakukan perjalanan ke Balikpapan, Ali sempat melihat poster dirinya yang ditempel dimana-mana.

Sumber foto: Tribunnews.com
Sumber foto: Tribunnews.com

Setelah itu Ali kembali lari ke Kecamatan Penajam, Kabupaten Pasir, Kaltim. Di sana, ia bersembunyi di sebuah gubuk milik Mbah Giman. Merasa tak aman, setelah seminggu sembunyi di gubuk, Ali lari ke Samarinda. Di kota itu, ia sempat tinggal dua hari.

Setelah itu ia baru kabur ke hutan Batu Pasung. Di hutan itu, Ali bersembunyi di sebuah tenda. Di hutan itu, Ali bersembunyi selama tiga hari. Masih merasa tak aman, Ali kembali melanjutkan pelariannya hingga ke perbatasan Kaltim dan Kalimatan Tengah.

Di sebuah tambak yang terpencil jauh dari pemukiman penduduk, Ali dan kawannya memutuskan bersembunyi. Selama sembunyi di tambak, lewat radio, Ali selalu memantau perkembangan perburuan pelaku bom Bali oleh polisi.

Selama sembunyi, Ali selalu gelisah. Ia merasa pada akhirnya akan tertangkap juga. Benar saja, Januari 2003, saat sedang istirahat di gubuk dekat tambak, Ali mendengar bunyi speedboat yang menderu membelah sungai Mahakam.

Tak berapa lama, beberapa orang dengan senjata lengkap berloncatan dari speedboat dan langsung merangsek ke gubuk. Semuanya terlambat, tak ada kesempatan untuk kabur. Polisi sudah mendobrak pintu gubuk dan langsung menodongkan senjata. Pelarian sang teroris pun berakhir. Ya, sejauh-jauhnya teroris kabur, akhirnya tertangkap juga. Dalam buku yang sama, Ali Imron juga mengungkapkan penyesalannya telah ikut terlibat dalam tragedi bom Bali. Ia menyatakan tobat.

قالب وردپرس

0 Response to "Kisah Nyata Pelarian Seorang Teroris yang Akhirnya Menyesal dan Tobat – nulis"